Sabtu, 26 April 2014

Bideuk Bureuk

Hai sahabat bloggers :)
     Setelah beberapa malam sebelumnya dengerin lagu Kerinci. Nah aku jadi pengen berbagi lagu Kerinci pertama kali aku ketahui, dan juga pertama kali aku nyanyiin dihadapan orang banyak. Penasaran?! eitz tunggu dulu, cerita dikit ya....hehe
    Lagu ini cukup singkat dari lagu-lagu Kerinci lainnya yang setelah lagu ini aku cari tau. Dan lagu ini juga yang membawa aku ke tingkat Kabupaten. Bagi pemula kayak aku yang pada dasarnya anak pindahan,jiah. Cukup susah buat naklukin, memahami lirik dan mengucapkan kata per katanya. Secara aku kan pindahan dari Padang, yang sudah fasih bahasa Indonesia di dalam rumah dan bahasa Minang di luar rumah. Meskipun lebih kurang 3 tahun sudah aku di Kerinci, dari kelas 4 SD dan sekarang kelas 1 SMP  anggap saja dalam ceritanya, hehe tetapi tidak mudah memang untuk lancar dan bisa bahasa Kerinci, apalagi basic didalam rumah diajarkan untuk selalu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. 
   Setelah dipahami lebih lanjut dalam waktu sebulan, ya untuk mengikuti ajang itu aku diberikan waktu belajar dan berlatih hanya sebulan... tibalah saatnya penampilan di Kecamatan, jreng jreng jreng.... cekidot

BIDEUK BUREUK

Bideuk bureuk
Pandayon lusoh
Mano bisea
Bideuk ku kayoh
Karam di tangoh

Runton bureuk
Cilako dihoi
Mano jaleang
Nyondok ku tuhauk
Laela aaaeeeehhh

Reff:
Kutunggau maso, Ranggangan tibea 2X
Sumpaek lapeah
Bureung tirabeang
Laela aaeeehh
Laela aaeeehh..


     Yap 'Bideuk Bureuk' yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu perahu yang buruk. Setelah menyanyikan lagu ini ditingkat Kecamatan, ternyata aku lolos ke tingkat Kabupaten pemirsah. Padahal aku nggak tau loh kalo lagi ikut lomba -_- haha. Soalnya katanya cuma disuruh nampil, nyanyi, udah selesai. Mau tau cerita sampai di tingkat kabupatennya gimana? Anda penasaran? nggak lah ya haha... tunggu sambungannya :D

Jumat, 25 April 2014

Tamparan yang begitu kuat dari Tantangan ini

            Langkah kaki yang serentak menghampiri pintu keluar menandakan kelas untuk mata kuliah hari ini telah usai. Aku pun bergegas keluar dan menemui Lisa,
"sa, kata kak ivo hari ini kita jadi berkumpul dan berbagi ilmu serta bermain dengan adik-adik di mesjid Babussalam,kata kakaknya langsung kesana aja" ucapku senang,
Lisa pun menjawab dengan senang hati, 
"ayok lah"
         Aku dan Lisa berjalan menuju parkiran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,ya disana lah mahasiswa FKIP memarkirkan motor-motornya. Semua motor berjejeran dan tersusun rapi seperti susunan kartu. Dan sampailah pada motor yang di tuju. Hati ini pun menjadi senang tak karuan. Entah kenapa ada kesenangan tersendiri dalam hati ini jika di ajak turun langsung dan berbagi ilmu kepada mereka-mereka yang diumurnya masih haus akan ilmu pengetahuan, dalam hal pengabdian (tanpa gaji). Seperti ada panggilan dalam hati ini untuk mengikuti jalan yang menuju tempat pengabdian tersebut.
          Tenang bila melihat tawa lepas tanpa beban itu, tenang mendengar kaduan manja mereka tentang apa yang telah dilakukan teman sebayanya kepadanya maupun tentang apa yang telah mereka lakukan hari ini. Rasanya ingin kembali ke masa itu yang hanya memikirkan sekolah, main dan melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan pada masa sekarang ini, atau bisa dikatakan terbatas usia dan keadaan... hehe
            'Mesjid Babussalam' tulisan itu kini telah terpampang nyata dihadapanku,yang artinya telah tiba ditempat berbagi ilmu dan bermain. ya benar saja kedatangan kami disambut hangat oleh kakak-kakak tingkat yang telah lebih dulu tiba disana, begitupun adik-adik yang tengah bermain sambil belajar bersama kakak-kakak itu. Kami berdua pun tertarik untuk ikut dan bergabung langsung ke dalam permainan. Memang ini rumah kecilku, memang disini hatiku ingin mengistirahatkan hati dan beban tugas dan pikiran yang begitu memberatkan bahu dan otak ini seperti beberapa ton telah ku panggul, bisik hati kecil ini.
             Rintik hujan perlahan membasahi tempat permainann dan segera kami berteduh di pelataran/teras mesjid dan melanjutkan permainan disana. Karena merasa sudah cukup dua orang saja yang menghandle adik-adik itu, aku yang tidak ada kerjaan menghampiri kakak atau sang master dalam hal tulis menulis sebuah karya ilmiah. Karya tulis ilmiah, hal ini yang ingin ku tanyakan kepada beliau yang ahli di bidangnya. Perlahan aku menghampiri kak ivo nama panggilannya,
"kak boleh nanya nggak?" ucapku membuka percakapan,
"iya mau nanya apa nih?" jawab kakaknya ramah.
"apa yang membuat kakak ingin menulis sebuah karya tulis?" tanyaku serius.
"mmm apa ya? nggak ada hal khusus sih, cuma kakak mikirnya gini kita kan sebagai mahasiswa sudah selayaknya berpikir dan menulis sebuah karya hasil ide kita yang dituangkan di dalamnya. Nanti jika pun orang-orang tahu dan melihat karya kita mereka bisa saja langsung mengira wajar saja kan dia mahasiswa,gitu." jawab kak ivo.

    *hening*

"kak, sebenarnya udah lama sih pengen bisa nulis karya ilmiah itu kayak kakak yang jadinya bisa kemana-mana. Tapi Melda nggak punya skill kak, dan buat nyari ide itu susah" memulai pembicaraan baru.
"skill itu bisa dilatih bila ada kemauan, dan ide itu bisa datang kapan saja,apalagi ide baru, kita sebagai mahasiswa mencoba memikirkan cara atau solusi untuk mengatasi maslah yang ada di Indonesia atau dunia. Dalam karya ilmiah tingkat mahasiswa seperti kita biasanya mencari kreatifitas, atau hal baru yang belum pernah ada. kalau kata Pak Dede kreatifitas itu adalah A+B=C, dimana A adalah solusi yang pernah ada, B adalah ide kita dan C adalah kreativitas itu." kak ivo langsung menyambung sebelum aku selesai bicara.

"nah kalau gitu kak, Melda sudah mau mencoba untuk memulai tetapi cara nulisnya nggak tau kan juga harus sesuai dengan sistematika yang ada?" tanya ku lebih serius lagi.
"kalau itu kita tentuin aja dulu idenya apa, nanti kita kembangkan. kalo kakak nyari ide itu kadang suka jalan-jalan sendiri pake motor pelan-pelan sambil melihat kondisi dan situasi sekitar. Dan sistematika penulisannya tinggal kita ikuti, kan ada rumusan masalah, dari sanalah kita membuat masalah dan mencari solusinya sendiri. Kalau begitu kakak tantang deh Melda dengan Lisa untuk buat satu Karya Tulis Ilmiah gimana? kan udah mulai banyak tuh info lomba KTI,coba aja ikut salah satu. Kakak taunya udah harus ada satu buah KTI itu nanti lebih lanjut lagi tahapnya." penjelasan sekaligus tantangan dari kak ivo.
         Serentak aku dan Lisa saling tatap, seolah baru saja di tampar dari arah yang berlawanan,
"gimana sa?kalau aku sih mau-mau aja,nggak ada salahnya nyoba kan?" ucapku penuh bersemangat,
"boleh aku sih mau-mau aja, tapi idenya itu loh" jawab lisa.
"kalo itu kita mulai cari dari sekarang, tapi sepertinya kita kekurangan anggota tim satu orang lagi,siapa ya kira-kira?" tanyaku dengan penasaran.
"berdua aja udah cukup kan tim nggak aharus tiga orang, minimal kan juga satu orang" ucap lisa penuh semangat
"haha bener juga sa,tapi ini beneran mau kan,aku serius loh untuk memulai ini" tanyaku penuh keseriusan,
"iya cobalah cari dulu info lombanya" jawaban lisa seolah memancing semangatku yang bergelora "oke oke sip" sambarku.
"Kak oke kami akan mencobanya,mohon bimbingannya", ucapku dengan nada agak tinggi sungguh-sungguh dan bersemangat.
"oke kakak tunggu", jawab kak ivo sambil tersenyum.

        Lagi lagi aku ditantang untuk mengikuti kompetisi itu :) yang sebelumnya ditantang oleh bang Eko, yang baru beberapa bulan ini berhasil meraih juara pertama KTI tingkat nasional, kemudian bang Adam yang sudah berkali-kali memenangkan perlombaan KTI tingkat nasional, dan kini kak Ivo sang master di bidang ini karena kakak ini telah memulai kompetisi ini lebih dulu dari bang Adam dan berkali-kali juga pastinya memenangkan kompetisi KTI tingkat nasional. 
         Why not? just try :) kita takkan tau ada kesempatan atau tidak tanpa mencoba :) karena sebenarnya kesempatan dan peluang itu selalu ada,tapi hanya kita yang tak ingin mencoba dan mencapai kesempatan tersebut. Dimana kemauan pasti ada jalan,oke modal awal itu aja dulu :) niat udah lama,tapi sebelumnya belum ada kemauan,sekarang kemauan sudah ada dan skill yang belum... kata kakaknya skill bisa dibentuk dan dilatih jika ada kemauan :) oke fix
I will, i will, i will fight :D
Come on bidadari :D come on princess warrior :D Fighting ^_^

Rabu, 23 April 2014

Jangan disalahartikan

Aku coba ikut lomba essay tingkat provinsi nih yang di adain di Universitas Jambi, sekalian mengasah kemampuan menulis, nggak yakin juga sih tapi just try :) agak panjang sih, soalnya diminta 1000-3000kata, terima kritikan :) this is it....



Siapa yang tidak kenal Raden Adjeng Kartini yang suka dipanggil dengan panggilan Katini atau yang biasa kita sebut R. A. Kartini. Sosok Kartini yang tidak suka dipanggil Raden Ayu ini merupakan seorang pahlawan nasional yang dikenal karena jasa – jasanya dalam memperjuangkan hak – hak kaum wanita melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia yang hingga kini disebut emansipasi wanita.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia emansipasi ialah pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Emansipasi wanita ialah proses pelesapan diri kaum wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.
Jadi bisa disimpulkan bahwa arti Emansipasi yang dimaksudkan oleh Katini adalah agar kaum wanita mendapatkan hak  untuk meraih pendidikan  seluas-luasnya dan setinggi-tingginya, agar wanita juga di akui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh ilmu dan menerapkan ilmu yang dimilikinya dan agar wanita tidak merendahkan dan di rendahkan derajatnya di mata pria.
Ya R. A. Kartini adalah simbol awal dari perjuangan emansipasi wanita di Indonesia, bagaimana tidak? Beliau lah yang membuka pintu perbedaan antara pria dan wanita, beliau tetap teguh dengan pendiriannya serta berpegang dengan prinsip dalam berjuang melawan pertentangan dari sebuah adat lama yang selalu membeda-bedakan antara pria dan wanita, memperjuangkan cita-citanya yang berharap dapat mengubah nasib kaum wanita di kemudian hari. Hal ini tentu membutuhkan perjalanan yang panjang, tidak seperti membalikkan telapak tangan beliau memperjuangkan segalanya sampai akhirnya cita-cita seorang R. A. Kartini untuk mengangkat derajat kaum wanita terwujud.
Hingga kini, keberhasilan atas pemikiran Kartini dapat dirasakan oleh seluruh kaum wanita di Indonesia. Seorang wanita kini tidak lagi hanya terkurung didalam sebuah rumah melakukan pekerjaan-pekerjaan di dapur dan membersihkan rumah saja, namun seorang wanita dapat memperoleh dan menempuh tingkat pendidikan yang paling tinggi sekali pun yang dapat merubah status sosialnya di dalam lingkungan masyarakat. Sekarang hanyalah soal bagaimana dan usaha apa saja yang bisa mereka lakukan untuk mendapatkan hak-hak tersebut dengan berbagai usaha dan kerja keras wanita akan dapat meraih sebuah cita-cita dan harapan serta tujuan mereka tanpa adanya tembok pembatas yang memisahkan lagi. Sampai pada akhirnya seorang wanita dapat meraih cita-citanya setinggi apapapun yang mereka mau.
Semenjak terdapat sekolah untuk kaum wanita yang didirikan R.A Kartini, banyak putri-putri bangsa ini yang mau dan mampu meningkatkan martabat kaum wanita serta mengharumkan nama bangsa ini dengan kepandaian, kegigihan dan keuletannya dalam berbagai bidang. Terbukti di zaman modern sekarang ini yang sudah merdeka, banyak anak- anak sekolah yang berprestasi bahkan sebagian besar yang berprestasi banyak diraih oleh kaum wanita.
Tetapi dengan adanya prestasi-prestasi itu kaum wanita sekarang juga merasa bisa menandingi kemampuan dan berbagai kegiatan yang dimiliki kaum pria, dengan melenceng dari kodratnya sebagai seorang wanita. Misalkan saja dalam hal pacaran seorang wanita tidak malu untuk menyatakan perasaannya kepada kaum pria terlebih dahulu dimana yang seharusnya kaum wanita mampu mempertahankan harga dirinya di depan mata kaum pria dengan menjaga malu bukan dengan merendahkan diri seperti itu. Dan juga di dalam kehidupan rumah tangga yang seharusnya kaum wanita yang menjadi ibu rumah tangga yang menjaga dan merawat anak serta suami agar nyaman di rumah, tetapi dengan tenarnya nama atau sebutan wanita karir di masa kini itu seperti sudah menjadi hal yang biasa bagi seorang wanita untuk tidak merawat anaknya, mengurus suaminya demi mementingkan pekerjaannya dan memilih untuk menggunakan jasa babysister serta pembantu rumah tangga dalam kehidupannya.
Pertanyaan yang mungkin perlu direnungkan adalah, apakah peran sebagai ibu rumah tangga pada zaman sekarang ini dianggap lebih rendah daripada peran sebagai wanita karir ? Apakah wanita yang tetap memilih kehidupan sebagai ibu rumah tangga dapat  dianggap sebagai ketinggalan zaman ? dan apakah itu sudah berarti lebih baik menjadi wanita karir daripada menjadi ibu rumah tangga?
Biasanya jika terdapat kejadian dan pertanyaan seperti itu orang-orang akan mengatakan bahwa ini adalah zamannya emansipasi wanita, jadi harus menyamakan kaum wanita dengan kaum pria. Tetapi apapun itu alasannya itu adalah sebuah kesalahan besar dalam pengertian emansipasi yang telah diperjuangkan Ibu kita Kartini, kita pasti sudah tahu bahwa kodrat kaum wanita pasti dibawahnya kaum pria.
Kalau bangsa ini ingin memiliki masyarakat wanita yang maju sesuai dengan cita-cita dan perjuangan Kartini, maka sejarah Kartini perlu dicermati kembali.  Sebab kalau tidak demikian perjuangan para Kartini masa kini bisa saja kurang sesuai lagi dengan apa yang menjadi cita-cita ibu Kartini, walaupun sekarang ini sudah banyak wanita Indonesia yang berpendidikan tinggi dan menduduki jabatan penting di berbagai instansi.
Sekarang ini kita sudah bisa melihat kemajuan para wanita Indonesia dalam suatu indikasi di mana pekerjaan atau jabatan yang dulu hanya diduduki oleh kaum lelaki sudah banyak yang diduduki oleh kaum wanita.  Berbagai pekerjaan atau jabatan mulai dari pegawai negeri / swasta, pilot, pengacara, notaris, dokter, direktur, menteri, bahkan sampai jabatan presiden sudah banyak diperankan oleh wanita Indonesia.
Seharusnya dengan adanya emansipasi wanita sebaiknya bagi kaum wanita bisa memetik sisi positifnya, dimana kaum wanita disetarakan dengan kaum pria dalam bidang sosialnya. Tanpa harus merubah kodratnya, seorang wanita dapat mengecam pendidikan yang tinggi dan mendapatkan hak-hak nya sebagai seorang wanita, meraih cita-cita yang tinggi yang mungkin bisa bersetara dengan jabatan tertinggi seorang pria bahkan bisa melebihi jabatan tertinggi seorang pria sekalipun.
Nah, kini jika emansipasi wanita dewasa ini sudah bukan lagi kalimat asing bagi kita. Dengan itu, kita antara pria maupun wanita harus saling menghargai dan saling mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan bersama, bukan berarti diskriminasi karena dia itu pria atau wanita. Perkembangan yang melesat oleh kaum wanita dalam pembangunan politik, sosial, budaya dan lain sebagainya tidak akan mengurangi peran-peran pendukung lainnya, selama ada kontrol sosial kebersamaan yang tinggi diantara keduanya.
Dan sebagai wanita ada baiknya tetap mengartikan sepenggal kata emansipasi tersebut sesuai dengan kodratnya, jangan disalahartikan. Dan tetaplah menyaring atau memiliki filter yang kukuh terhadap pilihan antara ibu rumah tangga atau wanita karir yang nantinya akan berujung dilema pada kehidupan rumah tangga.
Emansipasi wanita ternyata memang tidak mudah. Dengan berbagai proses dan liku-liku perjalan yang dileawti seorang Kartini, perjuangan kaum wanita kini dalam mewujudkan emansipasi atau kesetaraan gender tersebut selalu berujung pada dilema yang kadang-kadang butuh pengorbanan. Semoga api yang telah dinyalahkan R. A. Kartini di hati kaum wanitanya semakin menyala bercahaya dan semoga api itu dapat bertahan, berkembang tetap pada maksud serta tujuannya dan tiada redupnya.
Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Kami merindukan sosokmu yang memiliki jiwa dan semangat juang yang tinggi :)